Wahai pengatur takdir….apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untukku. Apakah ini perasaan cinta yang sering dibicarakan orang-orang di luar
Terdengar suara langkah kaki semakin dekat dari arah belakangku. Oh ternyata dia gus Fahad yang datang dengan membawa secangkir besar kopi hangat.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, kang jibril...? apa sedang menunggu wahyu dari Tuhan..? hehehe”. Dia memang sering meledek namaku.
“oh, bukan apa-apa, gus. Cuma pengen ngadem aja nih… sampeyan kok belum istirahat?”.
“istirahat itu gak harus tidur, kang….intinya nenangin tubuh dan pikiran. Terutama sambil minum kopi kaya gini. Hehe. Oya, ini kubawain buat sampeyan juga lho, kang. Gak papa kan, satu cangkir berdua?”.
“oh, iya, gus. Makasih”, jawabku sambil agak sungkan.
Gus fahad memang suka sekali bergaul dengan para santri. Dulu pun dia sering masak bareng kami di dapur pesantren, lalu makan bareng-bareng di nampan besar. Maklumlah, dia juga pernah merasakan menjadi santri di pesantren lain selama beberapa tahun. Jiwa santri itulah yang menjadi jembatan besar atas keakraban kami.
Kami ngobrol beberapa lama. Gus Fahad menceritakan pengalamannya saat di Singapura. Aku pun juga menceritakan bagaimana keadaan pesantren selama dia pergi, termasuk kejadian subuh tadi.
Secangkir kopi pun semakin lama semakin berkurang. Kemudian tiba-tiba gus Fahad ingin mengatakan hal rahasia padaku. Bisa dibilang semacam curhat, yang seperti dilakukan perempuan. Ini tentang cinta. Ia mengatakan,”sampeyan tahu kan, kalau aku ini anak tunggal. Bapak sama ibu udah nganjurin aku menikah. Dan sebenarnya aku meresa menyukai seorang gadis yang baru kukenal di pesantren ini. Jika gadis itu menerima, insyaAllah aku siap segera menikahinya”. Entah kenapa, mendengar itu aku begitu terkejut, bahkan takut. Entah apa yang membuatku seperti itu, tapi yang jelas, nama Mona langsung mencul di perkiraanku. Hatiku benar-benar hancur, hingga bernafas pun sulit sekali. Aku mengira Mona pasti menerima lamaran seorang seperti gus Fahad.
Gus Fahad melihat ekspresiku yang mencurigakan. Ia bertanya apa aku baik-baik saja, tapi ku cuma bisa diam, sambil tersenyum kecut. Aku tahu dia merasa heran melihatku, dan ia berkata,”sepertinya sampeyan kurang sehat, kang. Yaudahlah, mari kita istirahat. Hari sudah larut”. Aku cuma senyum saja. Lalu gus Fahad berjalan pulang terlebih dahulu.
Pikiranku semakin kalut. Mataku tak bisa melihat apapun, kecuali bayangan Mona yang bersanding dengan gus Fahad. Tak sadar air mataku keluar, tapi langsung kuusap dengan lengan bajuku. Aku segera berdiri, mengatur nafas, mencoba tegar, dan cepat-cepat kembali ke asrama.
Esok hari matahari terbit cerah sekali. Cahayanya terasa menghangatkan dan menyulut semangatku. Sehingga tangan dan kakiku menjadi ringan untuk segala aktifitas. Apalagi setiap hari selalu kuawali dengan membaca al-Qur’an.
Ketika aku berjalan di depan rumah pak Kyai, spontan aku berhenti, melihat Mona berkerudung putih, terlihat cantik sekali. Dia sedang berbincang serius dengan pak Kyai di teras depan. Dari kejauhan kulihat, sepertinya pak Kyai sedang menasehati Mona. Dan aku penasaran, karena tiba-tiba Mona menangis. Tapi kemudian aku sadar, itu pasti pembicaraan rahasia. Maka aku langsung pergi dari situ.
Matahari sampai pada seperempat tugasnya di hari ini. Selesai shalat dhuha, aku dipanggil oleh gus Fahad. Mendadak ia mengajakku ke rumahnya. Aku bertanya ada tugas apa, tapi dia cuma menjawab,”sudahlah, ikut saja, cuma sebentar kok, tapi penting banget…!”. Ya aku ikut saja.
Kami masuk ke ruang tamu. Sambil kuucap salam, aku terkejut dan heran, disitu sudah ada pak Kyai, ibu Nyai, dua orang santri putri, dan juga Mona. Setelah kami datang, maka terkumpul tujuh orang di ruang itu. Aku semakin heran lagi setelah gus Fahad menutup pintunya. Apa yang sebenarnya terjadi.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar