Senin, 26 Juli 2010

CERPEN: BUKIT DI BELAKANG PESANTREN (episode 5)

Aku melihat pak Kyai sekeluarga hendak bepergian dengan mobilnya. Mereka berpakaian rapi dan membawa beberapa bungkusan. Entah apa itu. Sebelum berangkat, gus Fahad menemuiku,”kang jibril, tolong jagain rumah ya. Kami pergi dulu sebentar. Sebenarnya aku mau ajak sampeyan juga sih, sampeyan kan teman baik Fitria”.

lho, memangnya ada apa dengan Fitria? Apa dia sakit?

oh, tidak. Sampeyan belum tahu tho. Aku mau ngelamar Fitria malam ini. Makanya, doain bisa lancar ya, kang”.

o...gitu. Amin.... Wah, semoga sukses ya gus. Aku dukung seratus persen!”.

Kemudian mereka berangkat.

Aku tetap berdiri melihat mobil pak Kyai hingga melewati pintu gerbang, lalu tak terlihat. Lalu aku mendegar suara tangis perempuan dari arah belakangku. Aku menoleh. Betapa aku terkejut, dia adalah Mona, yang sejak tadi mendengar pembicaraanku dengan gus Fahad. Matanya memerah menatapku tajam. Seperti tatapan kecurigaan padaku. Aku langsung mendekatinya, tapi dia malah menjauh dengan air matanya yang semakin deras.

Dia berkata,”siapa yang membalas surat-suratku?

tenang dulu, mona....

siapa yang membalas surat-suratku, mas..... tolong jawab..!”. suaranya mulai meninggi.

Aku diam karena bingung. Lalu dengan sedikit gugup aku coba berkata tegas,”Baiklah. Aku yang membalas sutar-suratmu. Aku yang menulis surat-surat itu untukmu. Aku tak sanggup menerima jika siapapun dan apapun mematahkan hatimu”. Aku tak sadar kedua mataku telah berkaca-kaca. Kuusap air mataku yang sedikit keluar, lalu aku langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah kejadian itu, aku kembali sering melamun. Aku banyak berpikir, bodohkah yang selama ini kulakukan. Aku tak tahu lagi bagaimana sikapku jika menghadapi Mona.

Seperti biasa, aku pergi ke tempat setia yang selalu menemaniku saat aku sedih, bukit di belakang pesantren. Disana aku sempat berpikir, aku akan pergi dari pesantren ini. Aku akan pulang memenuhi permintaan orang tuaku. Dan aku akan menikah dengan Rahma, wanita pilihan ibuku. Lama aku merenung, sambil memandang foto Rahma.

Lalu aku dengar suara ucapan salam dari arah belakangku. Aneh. Suara itu belum pernah kudengar di bukit ini. Aku menoleh. Aku terpana, ternyata itu suara pak Kyai yang datang bersama gus Fahad, dan juga Mona. Aku menjawab salamnya, sambil pelan-pelan kusembunyikan foto Rahma.

Pak Kyai berkata,”Jibril, aku sudah tahu apa yang membuatmu sedih selama ini. Fahad dan Mona telah bercerita banyak padaku. Aku tahu apa yang terjadi antara kalian bertiga. Dan aku tahu, bagaimana solusi yang tepat, bahwa kamu akan mendapatkan impianmu. Mona sudah berbicara denganku, bahwa dia ingin sekali menikah denganmu”.

Pandanganku langsung menuju ke arah Mona yang tertunduk sambil tersenyum. Aku masih kurang percaya, maka aku bertanya,”benarkah itu Mona?”.

aku baru sadar, bahwa kamulah yang sebenarnya aku butuhkan, mas jibril...”, jawab Mona dengan menatapku tajam.

Lalu gus Fahad memecah suasana melankolis itu,”udahlah, kang jibril....gak usah malu-malu gitu.... sana kabari orang tuamu, lalu cepat tentuin tanggal pernikahan kalian. Gitu aja kok repot.... hahaha!”. kami tertawa bersama.

Huh..... akhirnya aku mendapatkan impianku yang kukira tak mungkin kudapatkan. Selesailah kepayahanku melawan perih ujian cinta. Aku sudah lelah menghibur hati yang sering sakit ini.

Selesailah pula kisah ini. Karena aku sudah lelah nulis. Aku mau ngerjain tugas-tugas lain.... terimakasih.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bagus.. nih karya kamu sendiri ya...