Senin, 04 Januari 2010

CERPEN: BUKIT DI BELAKANG PESANTREN (episode 2)

Di tengah-tengah majlis pengajian itu, aku mencoba tidak berisik, dan membuka kertas itu dengan sedikit menyembunyikannya. Aku menyipitkan mataku, dan mulai membaca,”Apa yang sebenarnya aku cintai, saat aku mencintai Tuhan?”.
Aku terpana sejenak, dan berpikir, karena kalimat itu terasa tidak asing di benakku. Ya, aku ingat, itu kalimat ucapan Augustinus, seorang filsuf, tentang konsep ketuhanan. Aku pernah mengenal kalimat itu dari buku filsafat yang sering kupinjam dari teman.
Aku menyimpan kertas itu lagi di saku. Sambil kembali memegang pena, kupandang pak Kyai yang ternyata sejak tadi menatapku. Aku tundukkan pandangan karena sedikit malu, lalu pengajian berlanjut.
Hari telah beranjak siang. Saat itu aku pergi ke pasar untuk membeli buku dan berbelanja kebutuhan pribadi. Di toko buku aku bertemu dengan Fitria, teman baikku yang juga seorang santri putri di pesantren kami. Aku menyapanya, dan dengan sedikit tidak enak, aku langsung menanyakan kabar gadis yang dirawat ibu Nyai itu. Fitri pun menjelaskan,”namanya Mona, kang. Alhamdulillah sekarang di sudah baikan, dan mulai tinggal bersama kami di asrama putri. Tapi sayangnya, dia suka diem kalau kami tanya-tanya tentang dia. Sepertinya dia punya masalah serius, kang”.
Mendengr jawaban Fitria, entah kenapa aku juga menjadi resah memikirkan gadis misterius itu. Dalam hati aku terus bertanya; Mona, siapa sebenarnya kamu ini. Apa yang telah terjadi padamu. Apa keterkaitanmu dengan secarik kertas itu…. Sambil berjalan pulang dari pasar, wajah Mona masih saja terus membayangi mataku. Aku benar-benar tak menyangka aku jadi seperti ini. Dia memang sangat cantik, berkulit putih, dan tubuhnya pun harum, walau saat itu sedang basah karena hujan.
Banyak dari santri yang menanyakan tentang gadis itu padaku, tapi aku diam saja, tak mau banyak bicara. Aku tak mau Mona menjadi pembicaraan di pesantren, yang bisa membuat gosip-gosip menyebalkan berkeliaran disana-sini.
Hari sudah mulai gelap. Aku berjalan ke depan untuk menutup pintu gerbang. Aku melihat bayangan seseorang berjalan dari kejauhan. Aku terus mengamatinya hingga lelaki yang membawa koper besar itu semakin dekat.
Wah, ternyata dia adalah gus Fahad, putra tunggal dari pak kyai, yang sejak empat tahun lalu menuntut ilmu di Singapura. Aku segera mendekatinya dengan mengucap salam. Aku menyalaminya, dan ia pun memelukku dengan senyum ramah,”wa’alaikum salam, kang jibril… gimana kabar semua, masih tetap aman kan? Hahaha”. Sikapnya masih saja asik seperti dulu. Sambil kami ngobrol, aku bawakan koper besarnya hingga sampai rumah.
Kedatangan gus fahad disambut gembira oleh pak Kyai dan ibu Nyai. Mereka terlihat sangat gembira dan bangga atas kedatangan putra satu-satunya yang baru saja bergelar sarjana filsafat itu. Aku kembali ke asrama, bersiap-siap menjelang shalat maghrib.
Malam pun semakin larut. Suara lonceng jam di gardu berdenting sebelas kali. Aku merasa pikiranku kalut. Bermacam lamunan berdesak-desakan di otakku yang sebenarnya sangat lelah. Aku keluar dari kamar dan berjalan ke atas bukit kecil di belakang pesantren.
Saat itu suasana sangat tenang. Bintang-bintang terlihat jelas di langit, dan udara pun tak terlalu dingin. Aku melihat beberapa pertugas jaga sedang bercanda di gardu, sementara tak ada canda di benakku saat itu.
Aku duduk di atas rumput tebal di atas bukit, dan menatap lurus ke arah depan. Aku sadar yang ada dihadapanku hanyalah kunang-kunang yang mondar-mandir sejak tadi. Tapi yang membuat aku tak merasa bosan adalah wajah Mona justru terlihat lebih jelas dari pada cahaya kunang-kunang itu.
Wahai pengatur takdir….apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untukku. Apakah ini perasaan cinta yang sering dibicarakan orang-orang di luar sana. Aku sungguh tersiksa karena ini. Jika ini memang cinta, mungkinkah aku mencintai seorang gadis yang sama sekali aku tak tahu latar belakangnya. Hhh…. Nafas panjang sering kulakukan untuk menenangkan pikiranku.
Terdengar suara langkah kaki semakin dekat dari arah belakangku. Oh ternyata dia adalah.....

Tidak ada komentar: