Minggu, 03 Januari 2010

DETAK 8: CERPEN: BUKIT DI BELAKANG PESANTREN (episode 1)

Namaku Jibril, anak dari petani miskin di pinggiran kota kecil. Sejak enam tahun lalu aku numpang ikut belajar mengaji di pesantren “al-Haqq”, yang jauh dari keramaian kota. Dan sejak delapan bulan lalu aku mendapat tugas di bagian keamanan di pesantren ini.
Malam itu asrama-asrama mulai terasa sepi. Terdengar lonceng jam menunjukkan pukul 01.00 malam. Para santri terbiasa mulai tidur sejak satengah jam yang lalu. Aku berjalan berkeliling kawasan asrama putra, dengan seorang temanku, Ridlwan, salah seorang petugas giliran jaga untuk malam itu. Sementara ketiga petugas yang lain sedang berkumpul di pos jaga, yang biasa kami sebut dengan “gardu”.
Setelah berjalan selama kira-kira setengah jam, tiba-tiba aku merasakan punggungku dingin karena tetesan gerimis. Aku berkata,”kang Rid, sampeyan pergi aja ke gardu, ikut ngumpul sama yang lain. Aku mau balik ke kamar”. “oke, kang”, jawabnya.
Gerimis semakin membesar. Suasana berubah menjadi bising karena suara tetesan air ke atap seng di sebagian atap kamar panggung. Persis sekali dengan keadaan rumahku delapan tahun lalu, saat aku masih terbiasa dengan lilin.
Aku masuk kamar dengan pelan, walau sedikit tergesa-gesa. Tidak enak kalau sampai membangunkan Ja’far dan Hanafi, teman satu kamarku. Kugantungkan bajuku yang sedikit basah, lalu spontan perhatianku mengarah pada lipatan kertas yang jatuh dari saku bajuku. Aku baru ingat, kertas itu adalah surat dari orang tuaku yang belum sempat kubaca. Aku memang agak malas membacanya, karena aku yakin, lagi-lagi isinya pasti agar aku cepat pulang dan cepat mencari pendamping hidup. Aku sendiri juga heran, kenapa aku belum tertarik pada hal yang satu itu. Tapi untuk memastikan, aku membuka surat itu di bawah lampu belajar bekas yang kubeli kemarin.
Aku membuka kertasnya, aku merasa heran, karena bentuk tulisan itu berbeda sekali dengan biasanya. Tulisan tangan itu terlihat sangat bagus dan rapi, tidak seperti tulisan ibu yang banyak coretan dan sering salah huruf. Maklum pendidikan ibuku hanya sampai pada Sekolah Dasar. Malah kabarnya dulu beliau sering bolos sekolah karena sering digangguin anak SMP, yang akhirnya jadi ayahku. Lucu sekali. Setelah itu beliau langsung akrab dengan yang namanya padi.
Aku baca surat itu, ternyata benar dugaanku. Selain mengabarkan keadaan keluarga, ibu memintaku agar cepat pulang. Dan di akhir surat tertulis;”ini adalah tulisan Rahma, putri pak KADES, yang baru lulus SMA tahun ini. Ibu meminta tolong ke dia agar nulis ucapan-ucapan ibu ini. Dan kamu perlu tahu, kalau Rahma juga telah lama nunggu kamu, le…”. Lalu aku kaget, ternyata ada sebuah foto juga di dalam amplop itu. Foto seorang perempuan cantik berjilbab, yang tertulis kata “Rahma” di balik foto itu. Aku cuma senyum-senyum saja, dan mengeluhkan sikap mereka yang menurutku lucu sekali….
Hujan mulai sedikit reda. Tapi hawa dingin masih menusuk tulang. Aku mengalihkan perhatianku dengan sholat tahajjud dua raka’at, dan kemudian membaca buku Mutiara Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, kitab ringkasan oleh al-Ghazali. Dan aku menemukan ketenangan dari buku itu.
Empat puluh menit berlalu, mataku sudah mulai lelah. Lalu aku rebahkan tubuhku di tikar tua yang kupakai sejak tiga tahun lalu. Aku pejamkan mata sambil berdo’a kepada Tuhan, agar Ia menjaga tidurku, memberi manfaat atas nikmat pulasku, dan agar Ia mengambil nyawaku jika esok hari lebih buruk dari pada hari-hariku sebelumnya. Aku mulai tertidur….
Suara lonceng terdengar dari arah gardu. Menandakan bahwa waktu subuh tiba lima belas menit lagi. Aku bangun dan bergegas merapikan diri, kemudian bersama para petugas jaga, membangunkan seluruh santri di asrama putra.
Setelah selesai sholat subuh, para santri menyebar menuju kelas masing-masing untuk mengaji. Gemuruh suara ayat-ayat al-Qur’an terdengar dari masing-masing kelas. Sementara aku menuju pintu gerbang pesantren untuk membukanya.
Pintu gerbang terbuka. Aku melangkah kedepan untuk melihat suasana luar. Tetapi betapa aku terkejut karena melihat seseorang duduk meringkuk di samping luar pintu gerbang. Rambutnya panjang, dan pakaiannya basah. Aku sempat mengira kalau dia orang gila yang kehujanan tadi malam.
Aku mendekatinya dan memperhatikannya lebih tajam. Ternyata dia seorang perempuan yang sedang tertidur. Kucoba bangunkan dia dengan hanya memanggil-manggilnya saja, tapi tak ada respon. Lalu kusentuh bahunya dan terus memanggilnya. Tapi tubuhnya malah terguling ke tanah. Aku bingung sekali, ternyata gadis itu pingsan. Kulihat tangannya menggenggam kecarik kertas kecil. Aku mengambilnya dan spontan langsung kusimpan di sakuku. Entah kertas itu penting atau tidak, yang jelas aku harus cepat menolongnya. Aku langsung memanggil seorang santri, kuajak dia mengangkat gadis itu dan membaringkannya di wisma tamu putri. Para santri putri berdatangan untuk melihat. Kemudian ibu Nyai datang dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menjelaskan semuanya, lalu ibu Nyai mengucapkan terimakasih, dan beliau bilang akan merawat gadis itu sampai Ia pulih. Kemudian aku kembali ke asrama putra dan meneruskan aktifitas harianku.
Setiap pagi pak Kyai mengaji kitab bersama para santri di serambi masjid. Aku pun mengikutinya. Tetapi karena kejadian subuh tadi, aku jadi terlambat dan duduk di barisan paling belakang. Kami mengaji kitab Tafsir al-Maraghi, yang sudah beberapa baris telah kulewatkan.
Aku tak habis pikir, di tengah-tengah mengaji mataku tertutupi dengan wajah gadis yang pingsan itu. Aku terus berpikir, siapa gadis itu, dan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia tentu tahu kalau tempat ini dalah pesantren, dengan melihat papan nama besar di atas pintu gerbang itu. Tetapi sepertinya ia ingin sekali masuk, walau dengan gaya berpakaian yang tentu dilarang di tempat ini.
Kemudian, aku baru ingat dengan secarik kertas yang kusimpan di sakuku tadi. Aku langsung mengeluarkannya, berharap menemukan jawaban yang kucari tentang gadis itu. Di tengah-tengah majlis pengajian itu, aku mencoba tidak berisik, dan membuka kertas itu dengan sedikit menyembunyikannya. Aku menyipitkan mataku, dan mulai membaca,”Apa yang sebenarnya aku cintai, saat aku mencintai Tuhan?”.

Tidak ada komentar: