Senin, 27 Juli 2009

DETAK 6: GADIS HUTAN

Aku melangkah ke tiap celah hutan

Wujut awal pengembaraanku yang tanpa arah

Kutinggalkan matahari,

Kutinggalkan bintang,

Kutinggalkan arah jalanan

Karena disini bukan kakiku yang berjalan, tapi batinku yang sedang berlarian

Aku berhenti di tengah bukit gersang

Kupejam mata, kurentang tangan,

Kuhirup udara sedikit panas oleh berbagai bara

Lalu kulihat kobaran putih dalam pejamku

Semakin dekat, semakin dekat

Hingga sedikit menyulut bulu mataku

Tapi udara kembali mengalir sejuk, dan memunculkan kicauan burung di sekeliligku

Maka kubuka mata perlahan

Tapi bola mataku tetap hanya bisa diam, yang juga turut memaku seluruh urat tubuhku

Bumi ini terlihat buram,

Tapi tidak pada satu arah tatapku,

Gadis bercadar putih sedang bersimpuh di tepi rawa

Menatap tajam pada awan yang mendung kecoklatan

Kucoba memanggilnya dengan suara serakku

Tapi justru semilir angin yang menyahutku, dengan menyingkap cadar, dan tunjukkan wajah yang elok itu

Kemudian angin berbalik arah

Menghantarkan satu kalimat lembut gadis itu...

”hanya Tuhan yang sedang kunantikan”

Tidak ada komentar: