Aku melangkah ke tiap celah hutan
Wujut awal pengembaraanku yang tanpa arah
Kutinggalkan matahari,
Kutinggalkan bintang,
Kutinggalkan arah jalanan
Karena disini bukan kakiku yang berjalan, tapi batinku yang sedang berlarian
Aku berhenti di tengah bukit gersang
Kupejam mata, kurentang tangan,
Kuhirup udara sedikit panas oleh berbagai bara
Lalu kulihat kobaran putih dalam pejamku
Semakin dekat, semakin dekat
Hingga sedikit menyulut bulu mataku
Tapi udara kembali mengalir sejuk, dan memunculkan kicauan burung di sekeliligku
Maka kubuka mata perlahan
Tapi bola mataku tetap hanya bisa diam, yang juga turut memaku seluruh urat tubuhku
Bumi ini terlihat buram,
Tapi tidak pada satu arah tatapku,
Gadis bercadar putih sedang bersimpuh di tepi rawa
Menatap tajam pada awan yang mendung kecoklatan
Kucoba memanggilnya dengan suara serakku
Tapi justru semilir angin yang menyahutku, dengan menyingkap cadar, dan tunjukkan wajah yang elok itu
Kemudian angin berbalik arah
Menghantarkan satu kalimat lembut gadis itu...
”hanya Tuhan yang sedang kunantikan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar