Senin, 27 Juli 2009

DETAK 7: KUTUKAN CINTA

Saat kuucap nama indahnya

Entah mengapa hatiku meronta, dan jantungku berontak keras

Bola mataku mati pada satu arah

Gelap tapi jelas

Wajah yang selama ini mengganggu lelapku

Inilah virus yang sedang menghimpit nafasku

Karena tiap udara kuhirup, perasaan cinta menusuk tiap tulangku

Inikah aku insan terkutuk?

Yang membuatku roboh tersungkur ke pangkuan rembulan

Rembulan polos yang membelai rambutku, tapi dengan selalu bisikkan kata cinta

Aku pun terlelap, hingga terjatuh di jurang tepi surga

Aku bangun dan bertanya,

Apa lagi semua ini....

DETAK 6: GADIS HUTAN

Aku melangkah ke tiap celah hutan

Wujut awal pengembaraanku yang tanpa arah

Kutinggalkan matahari,

Kutinggalkan bintang,

Kutinggalkan arah jalanan

Karena disini bukan kakiku yang berjalan, tapi batinku yang sedang berlarian

Aku berhenti di tengah bukit gersang

Kupejam mata, kurentang tangan,

Kuhirup udara sedikit panas oleh berbagai bara

Lalu kulihat kobaran putih dalam pejamku

Semakin dekat, semakin dekat

Hingga sedikit menyulut bulu mataku

Tapi udara kembali mengalir sejuk, dan memunculkan kicauan burung di sekeliligku

Maka kubuka mata perlahan

Tapi bola mataku tetap hanya bisa diam, yang juga turut memaku seluruh urat tubuhku

Bumi ini terlihat buram,

Tapi tidak pada satu arah tatapku,

Gadis bercadar putih sedang bersimpuh di tepi rawa

Menatap tajam pada awan yang mendung kecoklatan

Kucoba memanggilnya dengan suara serakku

Tapi justru semilir angin yang menyahutku, dengan menyingkap cadar, dan tunjukkan wajah yang elok itu

Kemudian angin berbalik arah

Menghantarkan satu kalimat lembut gadis itu...

”hanya Tuhan yang sedang kunantikan”

DETAK 5: INILAH CINTA

Begitu cantik Tuhan merias takdir

Hingga mataku dibutakan oleh sosok insan itu

Menumbuhkan sayapku yang selalu ingin mengepak ke arahnya

Berbondong angin mengipaskan harum senyuman manisnya

Tak ada lapar dan haus saat ini

Hanyalah para malaikat sedang tunduk padaku, dan bunga-bunga yang terus bersembunyi karena kekalahannya

Tak henti-hentinya bibir ini tersenyum kaku

Terbayang sosok dia yang melintas bagai matahari yang ramah

Tajam, tanpa menyilaukan

Oh Tuhan

Aku tak percaya cinta

Aku hanya percaya takdir

Tapi kenapa aku seperti ini

Jika memang harus seperti ini,

Maka jadikan dia takdirku

DETAK 4: Meledak Pula Tangis Mereka

Tertegun saat melihat sanak membangkai

Teriris saat potongan tubuh terkumpul tak berrupa

Menangis saat mereka sadar bahwa semua itu nyata

Serpihan kulit yang bercampur pecahan kaca

Ceceran darah yang memerahkan asap kepedihan

Inilah maha karya ledakan karma, oleh tangan trampil pencabut nyawa

Bahkan malaikat pun hanya bisa diam, entah dia berani menulis sesuatu atau tidak

Bom itu tak mengerti apa arti kesedihan

Bom itu tak mengerti apa arti kehidupan

Bom itu tak mengerti apa arti kecaman

Bom itu tak mengerti apa arti kebenaran

Teriak sekencang apapun tak mampu kembalikan nyawa

Hingga tak tahu, kapan tawa akan kembali ada

DETAK 3: RENUNGKU

Ku terperanjat saat dinding kamarku berbisik lagi


Bisiknya tentang kebohongan, kecurigaan, kemunafikan, dan kekosongan batinku


Kubohongi para cacing, para burung, dan ikan-ikan di lautan sana


Hingga Tuhan pun tak mau lagi menjawab salamku.


Kutatap di ujung kegelapan, para peri sedang menertawakanku.


Oh indahnya kehancuran ini....