Di tengah-tengah majlis pengajian itu, aku mencoba tidak berisik, dan membuka kertas itu dengan sedikit menyembunyikannya. Aku menyipitkan mataku, dan mulai membaca,”Apa yang sebenarnya aku cintai, saat aku mencintai Tuhan?”.
Aku terpana sejenak, dan berpikir, karena kalimat itu terasa tidak asing di benakku. Ya, aku ingat, itu kalimat ucapan Augustinus, seorang filsuf, tentang konsep ketuhanan. Aku pernah mengenal kalimat itu dari buku filsafat yang sering kupinjam dari teman.
Aku menyimpan kertas itu lagi di saku. Sambil kembali memegang pena, kupandang pak Kyai yang ternyata sejak tadi menatapku. Aku tundukkan pandangan karena sedikit malu, lalu pengajian berlanjut.
Hari telah beranjak siang. Saat itu aku pergi ke pasar untuk membeli buku dan berbelanja kebutuhan pribadi. Di toko buku aku bertemu dengan Fitria, teman baikku yang juga seorang santri putri di pesantren kami. Aku menyapanya, dan dengan sedikit tidak enak, aku langsung menanyakan kabar gadis yang dirawat ibu Nyai itu. Fitri pun menjelaskan,”namanya Mona, kang. Alhamdulillah sekarang di sudah baikan, dan mulai tinggal bersama kami di asrama putri. Tapi sayangnya, dia suka diem kalau kami tanya-tanya tentang dia. Sepertinya dia punya masalah serius, kang”.
Mendengr jawaban Fitria, entah kenapa aku juga menjadi resah memikirkan gadis misterius itu. Dalam hati aku terus bertanya; Mona, siapa sebenarnya kamu ini. Apa yang telah terjadi padamu. Apa keterkaitanmu dengan secarik kertas itu…. Sambil berjalan pulang dari pasar, wajah Mona masih saja terus membayangi mataku. Aku benar-benar tak menyangka aku jadi seperti ini. Dia memang sangat cantik, berkulit putih, dan tubuhnya pun harum, walau saat itu sedang basah karena hujan.
Banyak dari santri yang menanyakan tentang gadis itu padaku, tapi aku diam saja, tak mau banyak bicara. Aku tak mau Mona menjadi pembicaraan di pesantren, yang bisa membuat gosip-gosip menyebalkan berkeliaran disana-sini.
Hari sudah mulai gelap. Aku berjalan ke depan untuk menutup pintu gerbang. Aku melihat bayangan seseorang berjalan dari kejauhan. Aku terus mengamatinya hingga lelaki yang membawa koper besar itu semakin dekat.
Wah, ternyata dia adalah gus Fahad, putra tunggal dari pak kyai, yang sejak empat tahun lalu menuntut ilmu di Singapura. Aku segera mendekatinya dengan mengucap salam. Aku menyalaminya, dan ia pun memelukku dengan senyum ramah,”wa’alaikum salam, kang jibril… gimana kabar semua, masih tetap aman kan? Hahaha”. Sikapnya masih saja asik seperti dulu. Sambil kami ngobrol, aku bawakan koper besarnya hingga sampai rumah.
Kedatangan gus fahad disambut gembira oleh pak Kyai dan ibu Nyai. Mereka terlihat sangat gembira dan bangga atas kedatangan putra satu-satunya yang baru saja bergelar sarjana filsafat itu. Aku kembali ke asrama, bersiap-siap menjelang shalat maghrib.
Malam pun semakin larut. Suara lonceng jam di gardu berdenting sebelas kali. Aku merasa pikiranku kalut. Bermacam lamunan berdesak-desakan di otakku yang sebenarnya sangat lelah. Aku keluar dari kamar dan berjalan ke atas bukit kecil di belakang pesantren.
Saat itu suasana sangat tenang. Bintang-bintang terlihat jelas di langit, dan udara pun tak terlalu dingin. Aku melihat beberapa pertugas jaga sedang bercanda di gardu, sementara tak ada canda di benakku saat itu.
Aku duduk di atas rumput tebal di atas bukit, dan menatap lurus ke arah depan. Aku sadar yang ada dihadapanku hanyalah kunang-kunang yang mondar-mandir sejak tadi. Tapi yang membuat aku tak merasa bosan adalah wajah Mona justru terlihat lebih jelas dari pada cahaya kunang-kunang itu.
Wahai pengatur takdir….apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untukku. Apakah ini perasaan cinta yang sering dibicarakan orang-orang di luar sana. Aku sungguh tersiksa karena ini. Jika ini memang cinta, mungkinkah aku mencintai seorang gadis yang sama sekali aku tak tahu latar belakangnya. Hhh…. Nafas panjang sering kulakukan untuk menenangkan pikiranku.
Terdengar suara langkah kaki semakin dekat dari arah belakangku. Oh ternyata dia adalah.....
Senin, 04 Januari 2010
Minggu, 03 Januari 2010
DETAK 8: CERPEN: BUKIT DI BELAKANG PESANTREN (episode 1)
Namaku Jibril, anak dari petani miskin di pinggiran kota kecil. Sejak enam tahun lalu aku numpang ikut belajar mengaji di pesantren “al-Haqq”, yang jauh dari keramaian kota. Dan sejak delapan bulan lalu aku mendapat tugas di bagian keamanan di pesantren ini.
Malam itu asrama-asrama mulai terasa sepi. Terdengar lonceng jam menunjukkan pukul 01.00 malam. Para santri terbiasa mulai tidur sejak satengah jam yang lalu. Aku berjalan berkeliling kawasan asrama putra, dengan seorang temanku, Ridlwan, salah seorang petugas giliran jaga untuk malam itu. Sementara ketiga petugas yang lain sedang berkumpul di pos jaga, yang biasa kami sebut dengan “gardu”.
Setelah berjalan selama kira-kira setengah jam, tiba-tiba aku merasakan punggungku dingin karena tetesan gerimis. Aku berkata,”kang Rid, sampeyan pergi aja ke gardu, ikut ngumpul sama yang lain. Aku mau balik ke kamar”. “oke, kang”, jawabnya.
Gerimis semakin membesar. Suasana berubah menjadi bising karena suara tetesan air ke atap seng di sebagian atap kamar panggung. Persis sekali dengan keadaan rumahku delapan tahun lalu, saat aku masih terbiasa dengan lilin.
Aku masuk kamar dengan pelan, walau sedikit tergesa-gesa. Tidak enak kalau sampai membangunkan Ja’far dan Hanafi, teman satu kamarku. Kugantungkan bajuku yang sedikit basah, lalu spontan perhatianku mengarah pada lipatan kertas yang jatuh dari saku bajuku. Aku baru ingat, kertas itu adalah surat dari orang tuaku yang belum sempat kubaca. Aku memang agak malas membacanya, karena aku yakin, lagi-lagi isinya pasti agar aku cepat pulang dan cepat mencari pendamping hidup. Aku sendiri juga heran, kenapa aku belum tertarik pada hal yang satu itu. Tapi untuk memastikan, aku membuka surat itu di bawah lampu belajar bekas yang kubeli kemarin.
Aku membuka kertasnya, aku merasa heran, karena bentuk tulisan itu berbeda sekali dengan biasanya. Tulisan tangan itu terlihat sangat bagus dan rapi, tidak seperti tulisan ibu yang banyak coretan dan sering salah huruf. Maklum pendidikan ibuku hanya sampai pada Sekolah Dasar. Malah kabarnya dulu beliau sering bolos sekolah karena sering digangguin anak SMP, yang akhirnya jadi ayahku. Lucu sekali. Setelah itu beliau langsung akrab dengan yang namanya padi.
Aku baca surat itu, ternyata benar dugaanku. Selain mengabarkan keadaan keluarga, ibu memintaku agar cepat pulang. Dan di akhir surat tertulis;”ini adalah tulisan Rahma, putri pak KADES, yang baru lulus SMA tahun ini. Ibu meminta tolong ke dia agar nulis ucapan-ucapan ibu ini. Dan kamu perlu tahu, kalau Rahma juga telah lama nunggu kamu, le…”. Lalu aku kaget, ternyata ada sebuah foto juga di dalam amplop itu. Foto seorang perempuan cantik berjilbab, yang tertulis kata “Rahma” di balik foto itu. Aku cuma senyum-senyum saja, dan mengeluhkan sikap mereka yang menurutku lucu sekali….
Hujan mulai sedikit reda. Tapi hawa dingin masih menusuk tulang. Aku mengalihkan perhatianku dengan sholat tahajjud dua raka’at, dan kemudian membaca buku Mutiara Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, kitab ringkasan oleh al-Ghazali. Dan aku menemukan ketenangan dari buku itu.
Empat puluh menit berlalu, mataku sudah mulai lelah. Lalu aku rebahkan tubuhku di tikar tua yang kupakai sejak tiga tahun lalu. Aku pejamkan mata sambil berdo’a kepada Tuhan, agar Ia menjaga tidurku, memberi manfaat atas nikmat pulasku, dan agar Ia mengambil nyawaku jika esok hari lebih buruk dari pada hari-hariku sebelumnya. Aku mulai tertidur….
Suara lonceng terdengar dari arah gardu. Menandakan bahwa waktu subuh tiba lima belas menit lagi. Aku bangun dan bergegas merapikan diri, kemudian bersama para petugas jaga, membangunkan seluruh santri di asrama putra.
Setelah selesai sholat subuh, para santri menyebar menuju kelas masing-masing untuk mengaji. Gemuruh suara ayat-ayat al-Qur’an terdengar dari masing-masing kelas. Sementara aku menuju pintu gerbang pesantren untuk membukanya.
Pintu gerbang terbuka. Aku melangkah kedepan untuk melihat suasana luar. Tetapi betapa aku terkejut karena melihat seseorang duduk meringkuk di samping luar pintu gerbang. Rambutnya panjang, dan pakaiannya basah. Aku sempat mengira kalau dia orang gila yang kehujanan tadi malam.
Aku mendekatinya dan memperhatikannya lebih tajam. Ternyata dia seorang perempuan yang sedang tertidur. Kucoba bangunkan dia dengan hanya memanggil-manggilnya saja, tapi tak ada respon. Lalu kusentuh bahunya dan terus memanggilnya. Tapi tubuhnya malah terguling ke tanah. Aku bingung sekali, ternyata gadis itu pingsan. Kulihat tangannya menggenggam kecarik kertas kecil. Aku mengambilnya dan spontan langsung kusimpan di sakuku. Entah kertas itu penting atau tidak, yang jelas aku harus cepat menolongnya. Aku langsung memanggil seorang santri, kuajak dia mengangkat gadis itu dan membaringkannya di wisma tamu putri. Para santri putri berdatangan untuk melihat. Kemudian ibu Nyai datang dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menjelaskan semuanya, lalu ibu Nyai mengucapkan terimakasih, dan beliau bilang akan merawat gadis itu sampai Ia pulih. Kemudian aku kembali ke asrama putra dan meneruskan aktifitas harianku.
Setiap pagi pak Kyai mengaji kitab bersama para santri di serambi masjid. Aku pun mengikutinya. Tetapi karena kejadian subuh tadi, aku jadi terlambat dan duduk di barisan paling belakang. Kami mengaji kitab Tafsir al-Maraghi, yang sudah beberapa baris telah kulewatkan.
Aku tak habis pikir, di tengah-tengah mengaji mataku tertutupi dengan wajah gadis yang pingsan itu. Aku terus berpikir, siapa gadis itu, dan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia tentu tahu kalau tempat ini dalah pesantren, dengan melihat papan nama besar di atas pintu gerbang itu. Tetapi sepertinya ia ingin sekali masuk, walau dengan gaya berpakaian yang tentu dilarang di tempat ini.
Kemudian, aku baru ingat dengan secarik kertas yang kusimpan di sakuku tadi. Aku langsung mengeluarkannya, berharap menemukan jawaban yang kucari tentang gadis itu. Di tengah-tengah majlis pengajian itu, aku mencoba tidak berisik, dan membuka kertas itu dengan sedikit menyembunyikannya. Aku menyipitkan mataku, dan mulai membaca,”Apa yang sebenarnya aku cintai, saat aku mencintai Tuhan?”.
Malam itu asrama-asrama mulai terasa sepi. Terdengar lonceng jam menunjukkan pukul 01.00 malam. Para santri terbiasa mulai tidur sejak satengah jam yang lalu. Aku berjalan berkeliling kawasan asrama putra, dengan seorang temanku, Ridlwan, salah seorang petugas giliran jaga untuk malam itu. Sementara ketiga petugas yang lain sedang berkumpul di pos jaga, yang biasa kami sebut dengan “gardu”.
Setelah berjalan selama kira-kira setengah jam, tiba-tiba aku merasakan punggungku dingin karena tetesan gerimis. Aku berkata,”kang Rid, sampeyan pergi aja ke gardu, ikut ngumpul sama yang lain. Aku mau balik ke kamar”. “oke, kang”, jawabnya.
Gerimis semakin membesar. Suasana berubah menjadi bising karena suara tetesan air ke atap seng di sebagian atap kamar panggung. Persis sekali dengan keadaan rumahku delapan tahun lalu, saat aku masih terbiasa dengan lilin.
Aku masuk kamar dengan pelan, walau sedikit tergesa-gesa. Tidak enak kalau sampai membangunkan Ja’far dan Hanafi, teman satu kamarku. Kugantungkan bajuku yang sedikit basah, lalu spontan perhatianku mengarah pada lipatan kertas yang jatuh dari saku bajuku. Aku baru ingat, kertas itu adalah surat dari orang tuaku yang belum sempat kubaca. Aku memang agak malas membacanya, karena aku yakin, lagi-lagi isinya pasti agar aku cepat pulang dan cepat mencari pendamping hidup. Aku sendiri juga heran, kenapa aku belum tertarik pada hal yang satu itu. Tapi untuk memastikan, aku membuka surat itu di bawah lampu belajar bekas yang kubeli kemarin.
Aku membuka kertasnya, aku merasa heran, karena bentuk tulisan itu berbeda sekali dengan biasanya. Tulisan tangan itu terlihat sangat bagus dan rapi, tidak seperti tulisan ibu yang banyak coretan dan sering salah huruf. Maklum pendidikan ibuku hanya sampai pada Sekolah Dasar. Malah kabarnya dulu beliau sering bolos sekolah karena sering digangguin anak SMP, yang akhirnya jadi ayahku. Lucu sekali. Setelah itu beliau langsung akrab dengan yang namanya padi.
Aku baca surat itu, ternyata benar dugaanku. Selain mengabarkan keadaan keluarga, ibu memintaku agar cepat pulang. Dan di akhir surat tertulis;”ini adalah tulisan Rahma, putri pak KADES, yang baru lulus SMA tahun ini. Ibu meminta tolong ke dia agar nulis ucapan-ucapan ibu ini. Dan kamu perlu tahu, kalau Rahma juga telah lama nunggu kamu, le…”. Lalu aku kaget, ternyata ada sebuah foto juga di dalam amplop itu. Foto seorang perempuan cantik berjilbab, yang tertulis kata “Rahma” di balik foto itu. Aku cuma senyum-senyum saja, dan mengeluhkan sikap mereka yang menurutku lucu sekali….
Hujan mulai sedikit reda. Tapi hawa dingin masih menusuk tulang. Aku mengalihkan perhatianku dengan sholat tahajjud dua raka’at, dan kemudian membaca buku Mutiara Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, kitab ringkasan oleh al-Ghazali. Dan aku menemukan ketenangan dari buku itu.
Empat puluh menit berlalu, mataku sudah mulai lelah. Lalu aku rebahkan tubuhku di tikar tua yang kupakai sejak tiga tahun lalu. Aku pejamkan mata sambil berdo’a kepada Tuhan, agar Ia menjaga tidurku, memberi manfaat atas nikmat pulasku, dan agar Ia mengambil nyawaku jika esok hari lebih buruk dari pada hari-hariku sebelumnya. Aku mulai tertidur….
Suara lonceng terdengar dari arah gardu. Menandakan bahwa waktu subuh tiba lima belas menit lagi. Aku bangun dan bergegas merapikan diri, kemudian bersama para petugas jaga, membangunkan seluruh santri di asrama putra.
Setelah selesai sholat subuh, para santri menyebar menuju kelas masing-masing untuk mengaji. Gemuruh suara ayat-ayat al-Qur’an terdengar dari masing-masing kelas. Sementara aku menuju pintu gerbang pesantren untuk membukanya.
Pintu gerbang terbuka. Aku melangkah kedepan untuk melihat suasana luar. Tetapi betapa aku terkejut karena melihat seseorang duduk meringkuk di samping luar pintu gerbang. Rambutnya panjang, dan pakaiannya basah. Aku sempat mengira kalau dia orang gila yang kehujanan tadi malam.
Aku mendekatinya dan memperhatikannya lebih tajam. Ternyata dia seorang perempuan yang sedang tertidur. Kucoba bangunkan dia dengan hanya memanggil-manggilnya saja, tapi tak ada respon. Lalu kusentuh bahunya dan terus memanggilnya. Tapi tubuhnya malah terguling ke tanah. Aku bingung sekali, ternyata gadis itu pingsan. Kulihat tangannya menggenggam kecarik kertas kecil. Aku mengambilnya dan spontan langsung kusimpan di sakuku. Entah kertas itu penting atau tidak, yang jelas aku harus cepat menolongnya. Aku langsung memanggil seorang santri, kuajak dia mengangkat gadis itu dan membaringkannya di wisma tamu putri. Para santri putri berdatangan untuk melihat. Kemudian ibu Nyai datang dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menjelaskan semuanya, lalu ibu Nyai mengucapkan terimakasih, dan beliau bilang akan merawat gadis itu sampai Ia pulih. Kemudian aku kembali ke asrama putra dan meneruskan aktifitas harianku.
Setiap pagi pak Kyai mengaji kitab bersama para santri di serambi masjid. Aku pun mengikutinya. Tetapi karena kejadian subuh tadi, aku jadi terlambat dan duduk di barisan paling belakang. Kami mengaji kitab Tafsir al-Maraghi, yang sudah beberapa baris telah kulewatkan.
Aku tak habis pikir, di tengah-tengah mengaji mataku tertutupi dengan wajah gadis yang pingsan itu. Aku terus berpikir, siapa gadis itu, dan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia tentu tahu kalau tempat ini dalah pesantren, dengan melihat papan nama besar di atas pintu gerbang itu. Tetapi sepertinya ia ingin sekali masuk, walau dengan gaya berpakaian yang tentu dilarang di tempat ini.
Kemudian, aku baru ingat dengan secarik kertas yang kusimpan di sakuku tadi. Aku langsung mengeluarkannya, berharap menemukan jawaban yang kucari tentang gadis itu. Di tengah-tengah majlis pengajian itu, aku mencoba tidak berisik, dan membuka kertas itu dengan sedikit menyembunyikannya. Aku menyipitkan mataku, dan mulai membaca,”Apa yang sebenarnya aku cintai, saat aku mencintai Tuhan?”.
Langganan:
Komentar (Atom)